Teater Dunia Kecil
dalam panggungnya yang serba hitam
kayu-kayu penyangganya dicat hitam, tiang-tiangnya digantungi kain-kain hitam
membentang dari ujung ke ujung. Dan muncullah sang pemeran utama drama malam itu.
Setengah sadar ia membacakan puisi kontemplatifnya. Dikiri kanannya peran-peran pembantu
yang mengenakan jubah hitam, mukanya dicat hitam mengayun-ayunkan kepalan tangannya. Lalu
tertawa dan marah-marah. Emosi sesaat adalah simbol pemeran utama.
Manusia dengan emosi sesaat. Hapus dan hilang dalam jagad ketuhanan.
Sepi dan sunyi bercium-ciuman didepan sang pemeran utama. Larut dan hanyut dalam
perenungannya. Mahakaya pemikirannya. Mahasusah tindakan-tindakan untuk perubahan
untuk dilakukan. Tertabrak kemudian oleh dillema masa kini. Terbawa dosa-dosa masa
lalu. Tapi sesal tak pernah lahir, hingga selalu terulang adegan-adegan salah.
Sutradara garang itu berteriak lantang;
"berhenti...STOOOOP!!!!"
pemeran utama termenung dan kaget. Bangun dari dunianya.
dua pemeran pembantu itu lari ketakutan.
Sepi dan sunyi berhenti bermesraan. Digantikan jala-jala kematian yang menghadang
pemeran utama didepan.
Panggung masih hitam. Kain-kain hitam yang terbentang belum tercabik-cabik
meski penuh debu dan berbau apak sudah. Tiang-tiang dan kayu-kayu penyangga masih
membisu namun matanya masih melotot-lotot. Tidak pernah berhenti untuk menjadi saksi
adegan-adegan di panggung teater.
Tokoh itu berhenti dari pemeran teater. Ia sudah capai berada dalam arus-arus permukaan,
kadang-kadang malahan dalam kepura-puraan.
Ia rindu dengan keadaan tanah kelahirannya, dimana sungai jernih dan arusnya pecah
oleh bebatuan ditengahnya. mengalunkan nada-nada kecipak-kecipak. Udara begitu
dingin dan segar, sehingga terhiruplah kebajikannya. Hilanglah kepalsuannya.
Meski mundur mungkin kehilangan sesuatu.
Pemeran utama itu menghilang.

-aci-
teater keju_leleh
feminist and indigo

0 Comments:
Post a Comment
<< Home