Drama Monolog
Drama Monolog
Secercah Simpul Pagi,
Membangun Esok,
Mengharap Sinaran Hangat,
Embun dingin membalut perih,
Nafas mengganti nista..
Akhirnya...
Kosong mengganti galau
Kukumpulkan asap dari batang rokokku sendiri...
Menguatkan hati dan berkata tulus
“Kalau ternyata jadi hantupun tak apa..”
Lalu dengan pertanyaan ketegaranku, aku berani memunculkan nama ke permukaan panggung dunia....”Akankah manusia bahagia?”
Seperti Kupu-kupu , ia akan bahagia jika kau melepaskannya
Ia akan mati tercekik kehabisan nyawa jika kau memegangnya, padahal kau niat menjaganya...
Aku membayangkan dalam irama terjalnya lagu tabuh gemerlap kota,
Aku menari dengan ketelanjangan kumemperlihatkan dosa dan borok setiap lekuk
Aku menari bebas tanpa irama, ketukan dan aturan koreograferku_Sang Allah
Dengan lantang kuhadang maut
Dengan Fatal ku tantang lautan beserta ombaknya yang ganas
Kadang aku memang ingin tenggelam lalu hilang lalu tenggelam hanyut
Merayakan setiap sudut kekalahan dengan kesunyian
Bukan pertahanan maupun pembenaran posisi atau sekedar penghiburan
Karena untukku itu bukan sikap wanita sejati
Angin datanglah Hujan turunlah
Badai datanglah
Meraung.Merayap.Menggeletakkan limpa di sandaran kursi utama.
Meringis.Terjerembab.Menyeret tanah hingga berganti darah lalu terbukti kebenaran.
...
dan kuyakin
mentari kan datang untuk jadi pelipur lara.
....
Kutenggelam dalam cinta yang membasuhi lukaku
Namun perih yang kurasa tak pernah berakhir
Walau nian timbul nian tenggelam
Mungkin memang sisi itu tak pernah ku buka pada siapapun
Sampai aku bingung dengan keberadaan perasaan itu sendiri.
Bukan pendeskreditkan sebuah drama bertemakan “Cinta”.
....
Tuhan, ikhtiar, takdir dan kabut
Empat besar penentu ramalan sastraku yang misterius..
Penarik benang merah butuh ketegaran dan kekuatan
Walau untuk sekedar mengalirkan hidup apa adanya
Itulah yang seharusnya kulakukan...
Cium Sunyi
-aCi-

0 Comments:
Post a Comment
<< Home