05 October 2006

Semaikan Pesan Damai Itu!

bibirku tak pernah lelah...
menutur kisah indah tentang hidup dan sarinya,..

mengkomat-kamitkan harapan dalam untaian kata yang kurangkai,
seindah negeri ciptaanku. Semampuku. Sebisaku.

Kucoba merantaikan pada benda-benda langit saksi bisu bahwa tuhan pernah ada...
karena cuma mereka yang dapat menyimbolkan kesakralan,
atau sebagian dari sebuah tuhan.

mencoba bisu, mendengarkan suara alam..

angin gunung berbisik mengenai cinta...
menyebarkan ajaranNya pada setiap sel di permukaan bumi
supaya mereka terang dan menerangi dengan cinta mahatulus

Lalu,..
ombak dan laut membasuh kaki bukit sunyi,..
mereka mati mengakhiri siklus hidupnya demi sebuah tanah untuk satu kasih..
tanah yang menyimpan banyak pengharapan..

Ada beban yang mengubah struktur dari anugerah itu sendiri
kadang terlalu pahit untuk ditelan,
muntah, tapi tak dapat dikeluarkan..
bibir terbungkam oleh penyudutan waktu, situasi dan posisi
tak lama busuk oleh kebohongan...
masih tercekik, kuterpogoh dan berlari terus... terus...

Kucari-cari sendiri tempat berpusing
satu titik yang takkan membuatku terpeleset apalagi mati tanpa jasa...

Tibalah hari pengimbalan
dan kau lah yang berada dibalik gilluotine itu...
bayangmu ada dalam cermin-cekung-tajam itu...
akankah engkau mengambil kepalaku dari tubuhnya?
Kau cuma diam dan mendengarkan dakwaan hakim.

lalu kau menyeretku mendekati gilloutine itu

...
...

tapi waktuku belum tiba..
aku belum mau bersujud pada dosa dan kehinaan..
kau membuat segalanya baru dan putih kembali..

Cintamu membasuh semua merahnya lembar-kisahku
meski bukan suci, tapi keyakinanku putih.. bersih..

kita lari dari pengadilan massa...
menuju dunia baru tak bertuan,
kita membangun sendiri waktu, ruang, takdir yang kita mau...

Ombak dan laut menyembah kaki lembah hijau ini..
menyatukan pasir-pasir yang pernah terceraikan angin...
dan malaikat menyampaikan pesan dari yangmahakuasa
"kita diberkati"...

hari ini, besok dan besok,..
kau masih menyisakan waktu untuk bertapa sekedar setengah atau satu jam...
memintakan kekuatan untukku padaNya...
kekuatan untuk maju dan terus bertahan,
kekuatan untuk memaafkan diriku sendiri di masa lalu,..
kekuatan untuk terus mencinta...

kau mengajariku..
mengabaikan kelemahan waktu,
mengacuhkan keterpurukan ruang untuk terus berekspansi secara tiga koordinat...
bahkan,
melawan takdir yang mungkin pernah tertulis di kahyangan,
memenuhi hati dalam realitas dan negeri khayalan...

Andaikan kudapat menggabungkan semua keindahan yang ada,
yang pernah kupangku sebagai anugerah,
yang pernah melahirkan ulang seluruh serat yang sudah memerah menjadi kista-kista..
lalu kubagikan pada seluruh umat di semesta sebagai sembah-sujudku untukMu,..

adalah kutukan untukku untuk hidup tanpamu...
....

Ksatria Lemah
-aCi-

0 Comments:

Post a Comment

<< Home