Renungan dalam Relung
Betapa manusia tidak pernah hidup hanya di masa kini
Ia selalu berada di masa lalu dan masa depan;
yang sebetulnya tak terbayangkan.
Lalu mengisi jiwa-jiwanya dengan kebijaksanaan dan harapan.
Serta kehangatan kenangan
Seperti cahaya ibuku,
Melangkah di depanku per satu jengkal, menyapa manis.
Bukan hanya berkelebat seperti bayangan,
Melainkan bergeser pelan.
Kehangatannya meninggalkan jejak dan bekas.
Jiwa mampu menyapa jiwa
hati mampu menyentuh hati
tetapi akal begitu terbatas kemampuannya
untuk menjelaskan rasa.
nb: akhirnyaa ketemu juga puisi yang sudah lama hilang ini
ditulis dibelakang foto empat pendaki gunung gede setelah melewati hamparan edelweiss surya kencana.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home